Quotes

Tampilkan postingan dengan label Psikologi Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psikologi Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 November 2013

Konsep Evaluasi Secara Psikologis



Konsep Evaluasi Secara Psikologis

1.        Definisi Evaluasi

Kata evaluasi berasal dari Bahasa Inggris evaluation yang berarti penilaian atau penaksiran. Sedangkan menurut istilah evaluasi merupakan kegiatan yang terencana untuk mengetahui keadaan sesuatu objek dengan menggunakan instrumen dan hasilnya dibandingkan dengan tolak ukur untuk memperoleh kesimpulan.

Padanan kata evaluasi adalah statement yang menurut Tardif (1989) berarti proses penilaian untuk menggambarkan prestasi yang dicapai seorang siswa sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan.

Sedangkan Edwind Wandt dan Gerald w. Brown (1977) mengatakan bahwa evaluasi pendidikan adalah: evaluation refer to the act or process to determining the value of something. Sesuatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai dari sesuatu.Dari pendapat yang dikemukakan oleh Edwind Wandt dan Gerald W. Brown yang memberikan definisi tentang Evaluasi pendidikan, maka evaluasi itu sendiri dapat diartikan Suatu tindakan atau kegiatan ( yang dilaksanakan dengan maksud untuk) atau suatu proses ( yang berlangsung dalam rangka ) menentukan nilai dari segala sesuatu.

Ulangan dan Ulangan Umum atau THB (tes hasil belajar) dan TPB (tes prestasi belajar) adalah alat ukur yang digunakan untuk menentukan taraf keberhasilan sebuah proses belajar mengajar atau pengajaran. Sementara itu, istilah evaluasi di Indonesia dipandang sebagai ujian akhir jenjang pendidikan (UN).

2.      Tujuan dan Fungsi Evaluasi

Asessment menurut Petty (2004) adalah mengukur keluasan dan kedalaman belajar, sedangkan evaluasi yang berarti pengungkapan dan pengukuran hasil belajar yang pada dasarnya proses penyusunan deskripsi siswa baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Namun, kebanyakan pelaksanaan evaluasi cenderung dilakukan secara kualitatif, karena penggunaan simbol angka untuk menentukan kinerja siswa dianggap nisbi. Walaupun begitu, guru yang piawai dan profesional akan berusaha mencari kiat evaluasi yang lugas, tuntas, dan meliputi seluruh kemampuan ranah cipta, rasa, dan karsa siswa.

1.      Tujuan Evaluasi

Pertama, untuk mengetahui tingkat kemajuan yang telah dicapai oleh siswa dalam suatu kurun waktu proses belajar tertentu. Hal ini berarti dengan evaluasi guru dapat mengetahui kemajuan perubahan tingkah laku sebagai hasil proses belajar dan mengajar yang melibatkan dirinya selaku pembimbing dan pembantu kegiatan belajar siswanya itu.

Kedua, untuk mengetahui posisi atau kedudukan seorang siswa dalam kelompok kelasnya. Dengan demikian, hasil evaluasi itu dapat dijadikan guru sebagai

Konsep Perkembangan Peserta Didik

A. Definisi Perkembangan Menurut Ernawulan Syaodih

   Dari waktu ke waktu  kehidupan  manusia  terus  berubah.  Berawal  dari  dua  sel  dasar yaitu  sel  telur  dan  sperma,  suatu  organisme  tumbuh  dan  berkembang.  Dua  sel  tersebut kemudian  membelah  diri  dan  berdiferensiasi  untuk  menghasilkan  tulang-tulang,  syaraf, otot,  usus,  otak,  dan  bagian-bagian  organ  tubuh  lainnya.  Setelah  kurang  lebih  sembilan bulan  lamanya  dalam  kandungan  ibu,  organisme  yang  baru  tumbuh  tersebut  akhirnya menjadi  bayi  manusia  yang  sempurna  dan  siap  lahir  ke  dunia  dengan  perangkat keterampilan  hidup  minimal  yaitu  bernafas,  menggerak-gerakkan  tubuh,  menangis,  dan menyusu. Meskipun  di  saat  lahir  hanya  berbekal  seperangkat  keterampilan  minimal,  melalui interaksi dengan lingkungan (orang tua, saudara, orang dewasa lain, dan objek-objek yang ada di sekitarnya) sang bayi terus lebih menyempurnakan diri. Ia terus mengalami berbagai perubahan  fisik  baik  dalam  hal  ukuran  maupun  proporsinya.  Berat  dan  tinggi  badan  bayi terus  bertambah,  begitupun  proporsi  antara  organ-organ  tubuhnya-kepala,  badan,  kaki, tangan, dan organ-organ lainnya terus berubah menjadi lebih seimbang. Seiring  dengan  perubahan  struktur  fisik,  perilaku  dan  keterampilan  bayi  juga  terus semakin beraneka. Dalam hal perilaku  motorik,  misalnya mulai dari hanya bisa berbaring, kemudian mampu bergulir, menelungkup, duduk, merangkak, berdiri, berjalan,dan akhirnya berlari.
Uraian  di  atas  mengilustrasikan  adanya  proses  perubahan  yang  dialami  oleh  anak manusia  yang  disebut  dengan  perkembangan  (development).  Perkembangan  adalah  pola perubahan individu yang berawal pada masa konsepsi dan terus berlanjut sepanjang hayat. Namun  tidak  setiap  perubahan  yang  dialami  organisme  atau  individu  itu  merupakan perkembangan. Dengan  belajar,  perilaku  individu  juga  bisa  berubah.  Begitupun  karena faktor peristiwa  atau  pengaruh  penggunaan  obat  tertentu,  individu  juga  bisa  berubah. Untuk  itu perlu  ada  suatu  penjelasan  lebih  rinci  tentang  perubahan  yang  dimaksud  sebagai perkembangan.
      Pertama,  perubahan  dalam  arti  perkembangan  terutama  berakar  pada  unsur  biologis. Pengalaman-pengalaman  atau  aktivitas-aktivitas  khusus  anak  dapat  menimbulkan perubahan  pada  diri  yang  bersangkutan.  Misalnya,  seorang  anak  yang  berlatih  menari menjadi  terampil  menari;  anak  yang  belajar  matematika  atau  berhitung  menjadi  mahir dalam  mengerjakan  soal-soal  hitungan. Perubahan-perubahan semacam   itu  bukan merupakan perkembangan, melainkan lebih merupakan perubahan dalam arti belajar, yakni perubahan yang lebih singkat dan merupakan fungsi langsung dari pengalaman-pengalaman khusus  yang  diupayakan.  Perubahan  dalam  arti  perkembangan  lebih  berkaitan  dengan fungsi waktu dan kematangan biologis sehingga terjadi dalam periode yang lebih lama dan bersifat umum, tidak terkait dengan peristiwa atau pengalaman khusus tertentu.
     Kedua, perkembangan dapat mencakup perubahan baik dalam struktur maupun fungsi atau  perubahan  fisik  maupun  psikis.  Perubahan  dalam  struktur  lajimnya  merujuk  kepada perubahan fisik baik dalam hal ukuran maupun bentuknya (seperti perubahan lengan, kaki,otot,  jaringan  syaraf,  atau  bagian-bagian  tubuh  lainnya),  sedangkan  perubahan  fungsi mengacu kepada perubahan dalam hal aktivitas yang secara inheren terdapat dalam struktur fisik  tersebut  (seperti  kelenturan  otot,  keterampilan  bergerak,  kemampuan  berfikir,  reaksi-reaksi  emosional,  dan  perubahan-perubahan  sejenis  lainnya).  Dengan  kata  lain,  perubahan struktur mengacu kepada perubahan wujud jasadnya, sedangkan perubahan fungsi mengacu kepada perubahan aspek mental atau aktivitas yang ditimbulkan sehubungan dengan adanya perubahan dalam jasad tersebut.
        Ketiga,  perubahan  dalam  arti  perkembangan  bersifat  terpola,  teratur,  terorganisasi, dan  dapat  diprediksi.  Ini  berarti  bahwa  secara  normal,  perkembangan  individu  mengikuti pola-pola  tertentu  yang  sudah  dapat  diketahui  dan  diperkirakan.  Misalnya,  seorang  anak akan  bisa  duduk  setelah  bisa  menelungkup,  akan  merangkak  setelah  duduk,  dan  akan berjalan setelah merangkak. 
       Keempat, perkembangan dapat bersifat unik bagi setiap individu. Santrock & Yussen (1992:  17)  menyatakan  bahwa: