Tampilkan postingan dengan label Pendidikan Bahasa Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan Bahasa Indonesia. Tampilkan semua postingan
Senin, 04 November 2013
Medan Makna
BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Dalam bahasa Indonesia banyak sekali padanan atau ragam makna yang berbeda. Ragan-ragam makna atau medan makna itu banyak dipelajari dan dibahas di setiap pelajaran bahasa Indonesia. Namun tak semua mahasiswa dapat memahami medan makna dengan cepat. Padahal, penguasaan medan makna merupakan salah satu syarat utama yang menentukan seseorang untuk trampil berbahasa. Penguasaan medan makna juga berpengaruh pada pembelajaran. Salah satunya dalam penulisan karya sastra fiksi seperti cerpen dan puisi.
Dalam penulisan karya sastra fiksi, banyak menggunakan kata-kata yang mengandung medan makna, agar tulisan itu terkesan nyata. Tidak hanya dalam penulisan karya sastra fiksi, dalam karya nonfiksi pun kata-kata yang mengandung medan makna sangat diperlukan, agar audiens atau pembaca karya tersebut mengerti tentang apa yang dibahas. Untuk itu, penyusun akan membahas mengenai medan makna lebih dalam.
1.2. Rumusan Masalah
Adapun beberapa rumusan masalah yang penyusun ajukan diantaranya:
1) Apa yang dimaksud dengan medan makna?
2) Apa saja komponen-komponen dari medan makna?
1.3. Tujuan
Beberapa tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah:
1) Dapat mengetahui pengertian dari medan makna;
2) Dapat mengetahui dan memahami komponen-komponen dari medan makna.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA DAN PEMBAHASAN
KAJIAN PUSTAKA DAN PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Medan Makna
Menurut bahasa, medan berarti aneka, variasi, jenis, macam, atau ragam. Sementara makna sering disebut sebagai arti yang terkandung dalam suatu kata. Sedangkan menurut kamus linguistic (KL: 1997), medan makna adalah kumpulan butir leksikal(1) yang maknanya saling berhubung kait disebabkan kehadiran masing-masing dalam konteks yang serupa.
Medan makna berguna untuk perumusan makna dalam kamus dan untuk menentukan apakah kalimat yang digunakan dapat diterima oleh masyarakat atau tidak. Mengingat keragaman bahasa yang ada.
2.2. Komponen-Komponen Medan Makna
Setelah kita mengetahui apa itu medan makna, ada baiknya kita mlebih memahami jenis-jenis dari medan makna itu. Adapun komponen-komponen dari medan makna yang akan dibahas dalam makalah ini diantaranya:
1. Jenis-jenis Makna
Makna kata dapat dibedakan atas jenis-jenis makna. diantaranya:
a. Denotasi
Dalam kamus linguistik, Kridalaksana mengungkapkan bahwa denotasi ialah makna kata atau kelompok kata yang didasarkan atas konvensi tertentu dan bersifat objektif. Sedangkann Keraf menyatakan bahwa makna denotasi menunjuk kepada suatu referen, konsep, atau ide tertentu dari satu referen.
Dengan demikian kata-kata yang bermakna denotatif menunjukan maknanya secara jelas dan lugas. contohnya: pak parto membeli sepatu. Dalam kalimat itu sungguh jelas maknanya, sehingga tidak menimbulkan salah pengertian..
b. Konotasi
Makna konotatif adalah makna tambahan yang muncul disamping makna dasar yang dikandung suatu kata. Yang umumnya bersifat sindiran dan merupakan makna denotasi yang mengalami tambahan. Dalam hal ini suatu kata juga menimbulkan asosiasi dengan sesuatu yang mengenal nilai-nilai emosidan evaluatif. Penguasaan serta pemahaman konotasi sangat diperlukan bagi pembaca agar lebih sukses dalam peningkatan daya kata.
Contoh kalimat konotasi: menjelang hari raya idul fitri, banyak diadakan razia kupu-kupu malam.(kupu-kupu malam dalam kalimat itu berarti para PSK).
c. Makna Leksikal
Makna leksikal adalah sebuah makna yang
Sekilas Semantik Bahasa Indonesia
Sekilas Semantik Bahasa Indonesia
1. Jenis Makna
Jenis makna dapat dibedakan berdasarkan beberapa kriteria dan sudut pandang. Berdasarkan jenis semantiknya dapat dibedakan antara makna leksikal dan makna gramatikal. Berdasarkan ada tidaknya referen pada sebuah kata dapat dibedakan adanya makna referensial dan nonreferensial. Berdasarkan ada tidaknya nilai rasa pada sebuah kata dapat dibedakan adanya makna konotatif dan denotatif. Berdasarkan ketepatan maknanya dapat dibedakan adanya makna istilah atau makna umum dan makna khusus. Selain pembagian tersebut, jenis makna dapat pula digolongkan ke dalam dua jenis, yaitu (a) makna leksikal dan (b) makna kontekstual.
2. Makna Leksikal
2. Makna Leksikal
Makna leksikal (leksical me3aning, sematic meaning, external meaning) adalah makna kata yang berdiri sendiri baik dalam bentuk dasar maupun dalambentuk kompleks (turunan) dan makna yang ada tetap seperti apa yang dapat kita lihat dalam kamus. Makna leksikal dapat digolongkan menjadi dua jenis, yaitu (a) makna konseptual yang meliputi makna konotatif, makna afektif, makna stilistik, makna kolokatif dan makna idiomatik.
3. Makna Konseptual
Makna konseptual yaitu makna yang sesuai dengan konsepnya makna yang sesuai dengan referennya, dan makna yang bebas asosiasi atau hubungan apa pun. Makna konseptual disebut juga makna denotatif, makna referensial, makna kognitif, atau makna deskriptif. Makna konseptual dianggap sebagai faktor utama dalam setiap komunikasi.
4. Makna Generik
Makna generik adalah makna konseptual yang luas, umum, yang mencakup beberapa makna konseptual yang khusus atau sempit.
Misalnya, sekolah dalam kalimat “Sekolah kami menang.” Bukan saja mencakup gedungnya, melainkan guru-guru, siswa-siswa dan pegawai tata usaha sekolah bersangkutan.
5. Makna Spesifik
Makna spesifik adalah makna konseptual, khas, dan sempit.
Misalnya jika berkata “ahli bahasa”, maka yang dimaksud bukan semua ahli, melainkan seseorang yang mengahlikan dirinya dalam bidang bahasa.
6. Makna Asosiatif
Makna asosiatif disebut juga makna kiasan atau pemakaian kata yang tidak sebenarnya. Makna asosiatif adalah makna yang dimilki sebuah kata berkenaan dengan adanya hubungan kata dengan keadaan di luar bahasa. Misalnya kata bunglon berasosiasi dengan makna orang yang tidak berpendirian tetap.
7. Makna Konotatif
Makna konotatif muncul sebagai akibat asosiasi perasaan kita terhadap kata yang diucapkan atau didengar. Makna konotatif adalah makna yang digunakan untuk mengacu bentuk atau makna lain yang terdapat di luar makna leksikalnya.
8. Makna Afektif
Makna afektif merupakan makna yang muncul akibat reaksi pendengar atau pembaca terhadap penggunaan bahasa. Oleh karena itu, makna afektif berhubungan dengan gaya bahasa.
9. Makna Stilistik
Makna stilistik berhubungan dengan pemakaian bahasa yang menimbulkan efek terutama kepada pembaca. Makna stilistik lebih dirasakan di dalam sebuah karya sastra. Sebuah karya sastra akan mendapat tempat tersendiri bagi kita karena kata yang digunakan mengandung makna stalistika. Makna stalistika lebih banyak ditampilkan melalui gaya bahasa.
10. Makna Kolokatif
Makna kolokatif adalah makna yang berhubungan dengan penggunaan beberapa kata di dalam lingkungan yang sama.
Misalnya kata ikan, gurami, sayur, tomat tentunya kata-kata tersebut akan muncul di lingkungan dapur. Ada tiga keterbatasan kata jika dihubungkan dengan makna kolokatif, yaitu (a) makna dibatasi oleh unsur yang membentuk kata atau hubungan kata, (b) makna dibatasi oleh tingkat kecocokan kata, (c) makna dibatasi oleh kecepatan
11. Makna Idiomatik
Makna idiomatik adalah makna yang ada dalam idiom, makna yang menyimpang dari makna konseptual dan gramatikal unsur pembentuknya. Dalam bahasa Indonesia ada dua macam bentuk idiom yaitu (a) idiom penuh dan (b) idiom sebagian. Idiom penuh adalah idiom yang unsur-unsurnya secara keseluruhan sudah merupakan satu kesatuan dengan satu makna. Idiom sebagian adalah idiom yang di dalamnya masih terdapat unsur yang masih memiliki makna leksikal.
12. Makna Kontekstual
Makna kontekstual muncul sebagai akibat hubungan antara ujaran dengan situasi. Makna kontekstual disebut juga makna struktural karena proses dan satuan gramatikal itu selalu berkenaan dengan struktur ketatabahasaan.
13. Makna Gramatikal
Makna grmatikal adalah makna yang muncul sebagai akibat digabungkannya sebuah kata dalam suatu kalimat. Makna gramatikal dapat pula timbul sebagai akibat dari proses gramatikal seperti afiksasi, reduplikasi dan komposisi.
14. Makna Tematikal
Makna tematikal adalah makna yang diungkapkan oleh pembicara atau penulis, baik melalui urutan kata-kata, fokus pembicaraan, maupun penekanan pembicaraan.
15. Realasi Makna
Relasi makna adalah hubungan antara makna yang satu dengan makna kata yang lain. Pada dasarnya prinsip relasi makna ada empat jenis, yaitu (1) prinsip kontiguitas, (2) prinsip kolementasi, (3) prinsip overlaping, dan (4) inklusi.
1. Prinsip kontiguitas yaitu prinsip yang menjelaskan bahwa beberapa kata dapat memiliki makna sama atau mirip. Prinsip ini dapat menimbulkan adanya relasi makna yang disebut
3. Makna Konseptual
Makna konseptual yaitu makna yang sesuai dengan konsepnya makna yang sesuai dengan referennya, dan makna yang bebas asosiasi atau hubungan apa pun. Makna konseptual disebut juga makna denotatif, makna referensial, makna kognitif, atau makna deskriptif. Makna konseptual dianggap sebagai faktor utama dalam setiap komunikasi.
4. Makna Generik
Makna generik adalah makna konseptual yang luas, umum, yang mencakup beberapa makna konseptual yang khusus atau sempit.
Misalnya, sekolah dalam kalimat “Sekolah kami menang.” Bukan saja mencakup gedungnya, melainkan guru-guru, siswa-siswa dan pegawai tata usaha sekolah bersangkutan.
5. Makna Spesifik
Makna spesifik adalah makna konseptual, khas, dan sempit.
Misalnya jika berkata “ahli bahasa”, maka yang dimaksud bukan semua ahli, melainkan seseorang yang mengahlikan dirinya dalam bidang bahasa.
6. Makna Asosiatif
Makna asosiatif disebut juga makna kiasan atau pemakaian kata yang tidak sebenarnya. Makna asosiatif adalah makna yang dimilki sebuah kata berkenaan dengan adanya hubungan kata dengan keadaan di luar bahasa. Misalnya kata bunglon berasosiasi dengan makna orang yang tidak berpendirian tetap.
7. Makna Konotatif
Makna konotatif muncul sebagai akibat asosiasi perasaan kita terhadap kata yang diucapkan atau didengar. Makna konotatif adalah makna yang digunakan untuk mengacu bentuk atau makna lain yang terdapat di luar makna leksikalnya.
8. Makna Afektif
Makna afektif merupakan makna yang muncul akibat reaksi pendengar atau pembaca terhadap penggunaan bahasa. Oleh karena itu, makna afektif berhubungan dengan gaya bahasa.
9. Makna Stilistik
Makna stilistik berhubungan dengan pemakaian bahasa yang menimbulkan efek terutama kepada pembaca. Makna stilistik lebih dirasakan di dalam sebuah karya sastra. Sebuah karya sastra akan mendapat tempat tersendiri bagi kita karena kata yang digunakan mengandung makna stalistika. Makna stalistika lebih banyak ditampilkan melalui gaya bahasa.
10. Makna Kolokatif
Makna kolokatif adalah makna yang berhubungan dengan penggunaan beberapa kata di dalam lingkungan yang sama.
Misalnya kata ikan, gurami, sayur, tomat tentunya kata-kata tersebut akan muncul di lingkungan dapur. Ada tiga keterbatasan kata jika dihubungkan dengan makna kolokatif, yaitu (a) makna dibatasi oleh unsur yang membentuk kata atau hubungan kata, (b) makna dibatasi oleh tingkat kecocokan kata, (c) makna dibatasi oleh kecepatan
11. Makna Idiomatik
Makna idiomatik adalah makna yang ada dalam idiom, makna yang menyimpang dari makna konseptual dan gramatikal unsur pembentuknya. Dalam bahasa Indonesia ada dua macam bentuk idiom yaitu (a) idiom penuh dan (b) idiom sebagian. Idiom penuh adalah idiom yang unsur-unsurnya secara keseluruhan sudah merupakan satu kesatuan dengan satu makna. Idiom sebagian adalah idiom yang di dalamnya masih terdapat unsur yang masih memiliki makna leksikal.
12. Makna Kontekstual
Makna kontekstual muncul sebagai akibat hubungan antara ujaran dengan situasi. Makna kontekstual disebut juga makna struktural karena proses dan satuan gramatikal itu selalu berkenaan dengan struktur ketatabahasaan.
13. Makna Gramatikal
Makna grmatikal adalah makna yang muncul sebagai akibat digabungkannya sebuah kata dalam suatu kalimat. Makna gramatikal dapat pula timbul sebagai akibat dari proses gramatikal seperti afiksasi, reduplikasi dan komposisi.
14. Makna Tematikal
Makna tematikal adalah makna yang diungkapkan oleh pembicara atau penulis, baik melalui urutan kata-kata, fokus pembicaraan, maupun penekanan pembicaraan.
15. Realasi Makna
Relasi makna adalah hubungan antara makna yang satu dengan makna kata yang lain. Pada dasarnya prinsip relasi makna ada empat jenis, yaitu (1) prinsip kontiguitas, (2) prinsip kolementasi, (3) prinsip overlaping, dan (4) inklusi.
1. Prinsip kontiguitas yaitu prinsip yang menjelaskan bahwa beberapa kata dapat memiliki makna sama atau mirip. Prinsip ini dapat menimbulkan adanya relasi makna yang disebut
Langganan:
Postingan (Atom)
